Showing posts with label Magelang. Show all posts

#4 Menolak Panggilan Pulang

Sikunir, Dieng-Magelang-Gunung Kidul, Jogjakarta 29-30 Juni 2014

Masih di Karangkobar, pukul 01:30 dini hari kami mulai bangun dan siap-siap menuju Dieng. Dengan bantuan byebye fever dan satu pil obat pereda sakit kepala saya sembuh dan bisa ikut nanjak gunung pagi ini! YEAY 
Dengan sebuah mobil Expass, kami ber-8 (+Papanya Gending dan Gandang) berangkat menuju Sikunir yang berada di dataran tinggi Dieng dan sampailah kami di desa terakhir dan yang ternyata juga tertinggi di Jawa Tengah, yaitu desa SEMBUNGAN!
Perjalanan ini ditempuh dengan track-hiking yang kata orang-orang, biasa aja atau "lumayanlah" tapi bagi saya ini diatas lumayan-lah! #bukan anak gunung #jarang olahraga #banyak alesan. Saya yang setengah sembuh dan Monik harus terpaksa ketinggalan rombongan karena banyak istirahatnya. Akhirnya setelah saya ber yel-yel ria dan nyemangatin Monik, kami sampai di puncak Sikunir dan belum terlambat.


langit saat kami sampai
dijepret oleh Tasya Bintang

#3 Menolak Panggilan Pulang

Magelang - Karangkobar 27-28 Juni 2014

Sudah 4  hari ternyata kami meninggalkan Pamulang, bangun-bangun di Magelang! Hari ini tour guide dadakan kami a.k.a mamanya Gending mau ngajak kami muter-muter Magelang. Setelah bangun kesiangan ini, akhirnya kami siap-siap dan menuju KETEP PASS!

#2 Menolak Panggilan Pulang

Magelang, 25-26 Juni 2014
 
 Sebuah mobil hitam datang menjemput kami di depan alun-alun Semarang yang ramai dan penuh warna-warni cahaya lampu mainan anak-anak. Mobil berseat 7 itu kami tumpangi ber-8 ditambah 6 buah backpack dan beberapa tas tambahan. Mungkin kalau mobil bisa ngomong, dia bakal teriak-teriak. Setelah lelah seharian bertualang, saya duluan yang kemudian disusul Tasya, Monik, Vander, Gending, dan Harta mulai terlelap. Saya mulai terbangun lagi ketika kami menyusuri jalanan panjang yang gelap. Kiri hutan, kanan semacam turunan agak curam.  Omnya Gending yang semacam veteran pembalap ini, terus-terusan membalap truk-truk besar di jalanan sempit yang gelap ini. Saya yang panikan ini cuma bisa was-was dan mengaduh dalam hati sambil mulai terlelap lagi. Lah wong saya ini Pelor, nemPel moLor.

“Yok, Yok udah sampe Yok!” Suara kakeknya Gending ini akhirnya yang bangunin kami, di tengah jalanan menurun yang menurut saya curam dan kayaknya bakal males banget buat ditanjaki. Bangun setengah sadar, sambil ngumpulin nyawa, dan ngangkut backpack yang berat, ya semacam pose-pose babon gendut yang mabok gitulah.  Jadi, sampailah kami di rumah kakeknya Gending! MA-GE-LANG!

“Oh, ini toh mamanya gending” (padahal udh pernah ketemu)
“oh halo eyang, maaf ya ngerepotin”
“makasi banget ya om”
“ma, ini monik”
“ini nungky”
“ini tasya”
“vander”
“harta”
“kamar mandinya di mana ya tante?”