Apa Katanya?



“Wahai  perempuan secerah terik, siang ini kelabu. Seakan langit berkabung ingin menumpah tangis sederasnya. Adakah sendu merangkul pundakmu?”
“Salam bagimu, laki-laki teduh. Tidak selalu langit kelabu pertanda hujan. Tidak selalu mentari berkawan dengan terik. Entahlah, seperti halnya menebak langit abu-abu, tidak ada hal yang pasti.”

Papua Bercerita


Hai!
Sebenarnya saat ini otak saya sedang disabotase oleh tugas esai Bahasa Indonesia, tapi berhubung saya belum ada minat nyentuhnya, saya pikir saya mau nulis tentang wawancara dadakan saya dengan seseorang dari Papua.

Jadi semuanya berawal dari hp teman saya yang hilang sewaktu kami naik motor. Teman saya yang setengah ikhlas ini akhirnya mencoba jalan terakhir untuk nge-chat hapenya pakai hape saya yang sampai berjam-jam lamanya akhirnya gak ada respon.
Tapi ternyata pas malam, yang nemu hape merespon chat saya. Singkat cerita pokoknya kami akhirnya ngajak makan sore bareng sekalian minta hp yang diambil penyelamat itu.

Left Behind


Just a moment

So, on one random night, I found myself check up my old sketchbook. Then I opened my old scrap papers that full of photos when I was in Junior High School. I looked it up one by one, laughing, and suddenly found myself missing the old things.

CIWATAK Menolak Panggilan Pulang


Setelah nulis banyaak, akhirnya videonya rilis juga! maafkan ke-alay-an dan wajah terlalu bahagia kami! untuk cerita detailnya, bisa dibuka di post saya dari Menolak Panggilan Pulang #1 - #5 ya! Salam jalan - jalan!

#5 Menolak Panggilan Pulang

Gunung Kidul- Jogjakarta-Solo-Jakarta, 1-3 Juli 2014

Sudah sepekan ternyata jalan-jalan kami berlangsung. Masih di atas pasir pada selembar tikar berbantal paha Gending dan di bawah langit berbintang, akhirnya saya terbangun.

"woy pindah yuk, masuk angin ntar"
"weh gila beneran PeLor dia"
"tidur dulu aja kita, baru nanti liat sunrise"
"yaudah."

Kami kembali ke lantai dua penginapan kami untuk tidur. Alarm kami masing-masing sudah berbunyi, pukul 04:30,saya, Monik, Tasya, dan Gending bangun tanpa memundurkan jam alarm  karena memang niat mau lihat sunrise di bukit pendek dekat pantai. Eh tapi apa mau dikata, ternyata hujan deras. Padahal jarang banget hujan di pantai :( Tak apalah, karena kami juga udah puas lihat sunrise waktu dipuncak Sikunir. 

Karena kemarin baru kesampean main pasir dan belum puas main airnya, akhirnya setelah hujan berhenti, kami langsung buru-buru keluar dan menjelajah pantai yang polos tanpa banyak batu & bulu babi seperti kemarin. Sampai lupa pake sunblock!
Awalnya cuma mau main deket-deket pasir (katanya pantai selatan ombaknya suka nyeret soalnya), eh makin lama makin menantang, makin seru untuk dilawan ombaknya. Akhirnya kami seru-seruan main air sampai rambut penuh pasir.






Istirahat sebentar ya main pasir lagi. Saling ngubur badan satu sama lain :)

#4 Menolak Panggilan Pulang

Sikunir, Dieng-Magelang-Gunung Kidul, Jogjakarta 29-30 Juni 2014

Masih di Karangkobar, pukul 01:30 dini hari kami mulai bangun dan siap-siap menuju Dieng. Dengan bantuan byebye fever dan satu pil obat pereda sakit kepala saya sembuh dan bisa ikut nanjak gunung pagi ini! YEAY 
Dengan sebuah mobil Expass, kami ber-8 (+Papanya Gending dan Gandang) berangkat menuju Sikunir yang berada di dataran tinggi Dieng dan sampailah kami di desa terakhir dan yang ternyata juga tertinggi di Jawa Tengah, yaitu desa SEMBUNGAN!
Perjalanan ini ditempuh dengan track-hiking yang kata orang-orang, biasa aja atau "lumayanlah" tapi bagi saya ini diatas lumayan-lah! #bukan anak gunung #jarang olahraga #banyak alesan. Saya yang setengah sembuh dan Monik harus terpaksa ketinggalan rombongan karena banyak istirahatnya. Akhirnya setelah saya ber yel-yel ria dan nyemangatin Monik, kami sampai di puncak Sikunir dan belum terlambat.


langit saat kami sampai
dijepret oleh Tasya Bintang